CAMPAK masih jadi masalah besar di Jawa Barat. Jumlah kasusnya masih cukup tinggi dan tersebar di 27 kota dan kabupaten.
“Kasus terbanyak ditemukan di Kota Tasikmalaya, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi.
Dia mengimbau masyarakat untuk memastikan kelengkapan imunisasi. Dinas Kesehatan Jawa Barat berupaya memutus rantai penularan, meningkatkan cakupan imunisasi, serta melindungi kelompok rentan terutama anak-anak dari risiko komplikasi akibat campak
Dinas Kesehatan Jabar, lanjutnya, sudah menginstruksikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, untuk memperketat pengawasan terhadap kasus campak.
“Setiap temuan kasus suspek campak wajib dilaporkan ke dinas kesehatan setempat dalam waktu maksimal 24 jam. Bagi fasyankes yang menemukan pasien dengan gejala mengarah pada campak, terdapat protokol penanganan yang harus segera dilakukan,” tambah Vini.
Selain instruksi bagi tenaga medis, masyarakat juga diimbau untuk berperan aktif dengan mengecek kembali status imunisasi keluarga. Tidak ada kata terlambat untuk melindungi diri dan anak-anak.
“Segera lengkapi imunisasi di Posyandu, Puskesmas, atau fasilitas kesehatan terdekat jika belum lengkap,” tandasnya.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Jawa Barat mendorong petugas kesehatan di daerah yang kasus campaknya meningkat untuk melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI). ORI merupakan imunisasi campak untuk seluruh sasaran anak usia 9 hingga 59 bulan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya sebagai upaya mengatasi campak.
Tercatat, hingga 19 Maret 2026 terdapat dua wilayah yang akan melaksanakan ORI pada April 2026, yakni Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut.
Pelaksanaan ORI dilakukan dengan mempertimbangkan peningkatan kasus campak di wilayah itu. (H-2)